Kulupakan waktu yang lewat
Jejak-jejaknya akan kutinggalkan di sela jalan-jalan ini
Agar aku bisa hidup di hari ini dan nanti

tapi tidak sepenuhnya hilang. ia bisa saja bangkit. detak jantung yang mengencang hari-hari kemarin bukan gemuruh guntur hujan bulan juni milik sapardi yang lahir dari rahim kemarau, datang seperti sapa, memintaku mengingatnya, dan memberi lara pada pertengahan Mei ini. kesedihan, entah kenapa, selalu punya jalan untuk bertandang.
"iya, aku takut kamu sedih. benarkah keputusanmu?"
aku hanya diam, denyut jantungku kencang. dengan itulah aku mengobati semuanya. membuat yang "samar" bisa jadi keyakinan, yang sementara dapat bertahan masa. siapa tahu diamku dapat mempercepat pembicaraan kita.
"jawablah pertanyaanku, benar atau tidak?"
aku bergeming, dadaku sesak. sering ada dua persimpangan. tapi akan selalu kubuat jalan pintas ketiga. kupilih memetik dawai gitar.
"kamu bisa tidak menyesalinya, kan?"
bukan bisa. tapi harus, detak jam dinding lebih lambat dari detak jantungku. akalku kali ini menerkamku. hanya dengan ikhlas aku bisa menerima apa pun yang terjadi sebagai jalan yang mesti dilalui. menyadari diri hanya lintasan-lintasan dari apa pun. semua sudah aku sampaikan padamu, aku ingin memberi, bukan meminta, bukan memaksa. akan tetap kuberikan meski tak diterima. jika yang melintas itu mau berlabuh, menetap, atau hanya lewat, semua sudah ada garisnya. semua harus berjalan, semua harus dilanjutkan...
"ya sudah, terserah kamu lah..., tapi 'samar'mu melukai kepercayaanku"
setiap sahabat adalah kepercayaan. setiap kepercayaan adalah rahmat. bahkan kadang setiap rahmat adalah harap, kembali oksigen darahku menyusut. kalau keteduhan bisa ia dapatkan diantara celah-celah pepohonan, disemilir aroma daun, diantara bulir-bulir embun pagi yang menyapanya. hingga bisa ia rasakan udara memeluknya erat sekali, dan ia ingin waktu berhenti untuknya seketika. maka aku hanya berharap menjadi rumput.
"dan setiap harap harus tersampaikan dan berjawab, kan?"
dan harap itu cintaku, tidak bicara tentang kepemilikan, tapi kebersaatan, keterkejutan, nikmat kejap, syukur dalam keterbatasan.
"bagaimana syukur dalam keterbatasan, ya?"
iya, dengan meyakini pilihanku, memang kebersaatan itulah yang menjadi hakku. singgahnya yang sebentar itulah milikku. aku tak boleh berharap lebih. aku berjalan dalam diam. aku harus mampu berterima kasih dengan meski...
*******
alam selalu mampu memberi contoh mukjizat. jika gemuruh bisa lahir dari rahim bumi, tawa pun bisa terbit dari semesta langit yang gelap.
semoga kisah di ujung bulan Mei ini menutup nyeri.
Bandung, Mei 2009