
Persimpangan demi persimpangan
Pilihan dan pilihan
"pada akhirnya hanya seberapa banyak kebaikan yang kita buat dibanding keburukan yang kita lakukan"
sumber foto: www.nationalgeographic.com
Work isn’t work, play isn’t play.Smua ini khidupn yang brgerak trus,dan aku hanya bagian kcil yng ingin menjalaninya dg suka cita dan sungguh2.Di tengah keramaian aku mnemukan bgitu bragamnya mnusia dan dunianya,di ruang kelas aku mnemukan apa yg smestinya aku buat kpd mrk,di tengah pendakian aku mnemukan kekuatanku tak terbataskan oleh apapun,di puncak gunung aku mnemukan hening yg damai dan kesadaran bahwa aku sangatlah kecil.Kembali ke bawah,aku ingin mmbaginya brsama kalian..
Setelah cukup kenyang dan puas mengobrol macam-macam seputar Merbabu kami berdua kembali ke Base Camp Pak Narto tempat menitipkan tas sebelumnya. Kami disambut oleh seorang bapak-bapak yang menggendong anaknya. Ternyata Pak Narto yang dimaksud sudah tidak tinggal di rumah tersebut, yang ada kini adalah anak-anaknya. Pak Narto sendiri telah menetap di Kampar Riau, menyusul adiknya yang tampaknya telah sukses sebagai perantau disana. Aha, dunia memang selebar daun melinjo, Kampar khan tanah kelahiranku, dan jarak tempat Pak Narto ke kampung halamanku hanya bersebelahan kecamatan. Sungguh kebetulan.
Selanjutnya tepat pukul 5 sore kami bersiap mendaki. Rekan seperjalananku menitipkan laptop-nya di tempat Pak Narto (ciri masyarakat modern yang aneh, kemana-mana menenteng laptop yang gak penting untuk sebuah liburan).
Pelajaran 3: jangan membawa barang-barang yang tidak perlu dan membebankan
Di depan telah ada beberapa pendaki yang mulai berkumpul dan ada yang malah memasang dome karena baru berencana mulai mendaki malam nanti. Dan pendakian pun kami mulai.
Gunung Merbabu terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali-Jawa Tengah. Gunung Merbabu berasal dari kata “meru” yang berarti gunung dan “babu” yang berarti wanita. Jadi Merbabu mempunyai arti Gunung Wanita.
Gunung Merbabu mempunyai ketinggian 3142 meter diatas permukaan laut(mdpl) serta terdapat tiga buah puncak yakni puncak Antena atau Pasar Bubrah (2800m dpl), puncak Syarif(3119m dpl) dan puncak Kenteng Songo(3142m dpl). Merbabu memang mempunyai tantangan untuk didaki. Medan Gunung Merbabu terbuka dan berbukit-bukit.
Gunung Merbabu termasuk gunung yang tidak aktif karena tergolong gunungapi tua di pulau Jawa ini mempunyai lima buah kawah, yaitu: kawah Condrodimuko, kawah Kombang, kawah Kendang, kawah Rebab, dan kawah Sambernyowo.
Masyarakat disekitar Gunung Merbabu kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani. Itu dapat dilihat karena hutan Gunung Merbabu menjadi ladang pertanian. Selain menjadi petani penduduk sekitar ada yang menjadi porter atau pemandu sebagai kerjaan sampingan karena hasil yang diperoleh lebih menguntungkan.
Sebenarnya bila kita ingin melakukan pendakian menuju ke puncak Gunung Merbabu terdapat tiga pilihan jalur, yaitu: jalur Kopeng, jalur Selo, dan jalur Wekas. Jalur Selo juga merupakan jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi. Biasanya banyak pendaki memulai pendakiannya dari jalur Kopeng dan turun melalui jalur Selo atau sebaliknya. Pendakian kali ini kami berdua memilih jalur Selo karena salah satu dari kami sebelumnya pernah melalui jalur Wekas.
Mulai Base Camp Pak Narto kita akan melalui setapak hutan pinus. Kemudian memasuki hutan sekunder. Pada dasarnya akan memutari sebuah gunung kecil yang berada di sebelah kanan dan lembah disebelah kiri kita. Jalurnya sendiri cukup jelas dan tidak terlalu curam hanya saja karena ini merupakan jalur lama sehingga mulai menjadi jalur air dan sedikit licin. Total waktu pendakian melalui jalur Selo ke puncak Kenteng Songo memakan waktu 6-7 jam dan turunnya 5 jam.
Setelah kira-kira 1 jam kami mulai memasuki tempat yang terbuka, Pos 1 telah terlewati. Akhirnya kami sampai di Pos 2 sekitar pukul 7 malam. Tidak ada tanda di Pos 2 ini, hanya berupa pelataran berbentuk bukit. Di tempat ini kami menemukan pendaki lain yang rupanya sedang beristirahat di bawah tenda bivak, mereka sangat lelap, dengkurannya terdengar keras. Kami memutuskan untuk bersitirahat dan membuka dome ditempat ini, mengambil posisi yang cantik tepat menghadap kearah kota Boyolali dan Solo, semua terlihat jelas, lampu-lampu kota. Langit pun rupanya menyambut kami dengan suka cita.
Seperti biasa, ngecamp begini paling asyik jika ngobrol sambil cengar cengir dan menikmati kopi, kacang dan camilan yang sudah siap. Setelah puas ngobrol kami bersiap untuk tidur dan berencana bangun jam 11 malam untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Hampir kami larut dalam mimipi tiba-tiba serombongan pedaki datang, ramai sekali. Tapi mereka hanya istirahat sebentar dan sayup-sayup suaranya hilang ditelan angin gunung. Dingin menusuk sekujur tubuh, kami pulas tertidur. Tepat pukul 11 malam kami terbangun, dan segera membereskan dome dan peralatan.
Tiga orang pendaki dari Solo ikut bergabung dengan kami. Dari Pos 2 ini jalur menjadi terjal dan licin. Selepas jalan setapak kami tiba sebuah dataran luas yang disebut Watu Tulis, karena di sini ada sebuah batu berukuran sangat besar. Kalau siang hari pemandangan di sini sangat indah. Memang di hadapan saya saat ini ada beberapa bukit membentang. Tapi disini sangat dingin, mungkin karena angin gunung turun perlahan dan berkumpul di lembah ini.
Minggu, 9 September 2007
Dari Watu Tulis, kami harus melewati dua bukit lagi, dan tinggi-tinggi..hehehe…kami mulai lelah. Ada plus minusnya juga berjalan malam. Kami hanya dipandu oleh sorot senter. Jalurnya tidak begitu terlihat, harus ekstra hati–hati. Tapi enaknya pandangan kita terbatas, tidak bisa melihat jauh sehingga pandangan hanya fokus ke jalur. Tidak mikir macam–macam. Beda dengan siang hari, tanjakan jauh di depan sudah kelihatan, tanjakan di depan mata masih panjang.
Sekitar jam 3 pagi kami semua akhirnya tiba di sebuah lapangan rumput kecil yang disebut Savana 1. Konon Edelweis Merbabu harumnya paling wangi. Di sini rekanku mulai kehilangan semangat untuk mencapai puncak. Tapi aku hasut terus, kapan lagi coba? Jarang ada kesempatan begini.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Dua bukit terlewati dan kami tiba di Savana 2. Banyak Edelweiss di sini. Pilihan lain untuk nge-camp, tempatnya lumayan lapang dan tertutup. Tidak jauh berjalan dari tempat ini kembali semangat rekanku diuji. Dia memutuskan tetap di persimpangan bukit karena terlalu lelah. Dan memilih menjaga carrier-carrier kami. Aku dipersilahkan melanjutkan mencapai puncak yang sudah terlihat jelas.
Waktu itu jam 5 pagi. Ya sunrise !..Dari atas bukit Savana 2 fajar terlihat cantik luar biasa. Apalagi Mars sang bintang fajar dan Bulan masih tampak terlihat jelas di kaki langit selatan. Subhanallah memang bagus banget, Golden time buat motret.
Puncak memang sudah dekat, satu bukit lagi kawan…ayolah, kalau aku sampai di puncak nanti aku teriaki ya? “Ok deh, kamu bawa sekalian kameraku, takut aku nggak bisa sampe lagi”. Alhamdullilah jam 6 pagi saya tiba di puncak Gunung Merbabu. Dengan dua kamera saya abadikan semua momen yang bisa saya tangkap. Dan ketika menengok kearah bawah jalur pendakian puncak, tiba-tiba saya melihat rekan saya sudah tergopoh-gopoh, aha! Sudah dekat kawan, tinggal selangkah lagi! Ayo! Dan akhirnya dia berhasil…Kami tertawa girang…
Pelajaran 4: jangan mudah menyerah!
Total waktu pendakian melalui jalur Selo ini ke puncak Kenteng Songo memakan waktu 6-7 jam. Cuaca cerah, Merbabu secara keseluruhan sangat cantik.
Jam 9 pagi memutuskan kembali turun. Dan jam 2 siang kami sudah tiba di Base Camp. Disambut nasi telor ceplok dan teh panas, wahhh lezatnya tiada tara……..Perjalanan dilanjutkan lagi dengan bus, kembali ke Jogja. Perjalanan yang melelahkan tapi juga menyenangkan.
Alhamdulillah, terimakasih untuk semuanya Tuhan. Sampai berjumpa lagi di perjalanan berikutnya.
NB: album pendakian Merbabu bisa diklik disini
Sabtu, 8 September 2007
Setelah repacking dan mengecheck segala peralatan sejenak, kami kemudian menuju terminal Giwangan Jogja, ditemani dua orang teman yang semula ingin ikut namun membatalkannya secara tiba-tiba tepat ketika kami sampai di terminal. Tapi itu tdak masalah buatku dan teman seperjalananku yang setia, bagi kami berdua ini soal komitmen dan waktu yang mahal tadi. Sungguh, sangat sulit mencari waktu luang seperti ini di kemudian hari.
Dari Giwangan kami naik bus “sumber kencono” jurusan Surabaya yang terkenal garang di jalanan tepat pukul 09:00. Rencananya kami akan berhenti di Mojokerto. Tujuan akhir kami adalah Bromo. Memasuki kota Klaten, tiba-tiba HP rekanku berdering. Entah apa yang mereka bicarakan tepatnya, tapi tampak aura tak enak menyelinap dari sela-sela kaca bus ini. Wajah rekanku mengerenyit sedih dan nelangsa.
“Eh, klo di Mojokerto ada warnet nggak ya?” spontan dia bertanya setelah menutup HP nya. “Mungkin ada sih, emang kenapa?” aku balik bertanya. “Aku lupa kalo masih ada kerjaan belum selesai, dan sore ini jam 5 deadline-nya, atau di Bromo ada hotspot?”. Benar kiranya, ada yang tidak beres “Wah mana aku tahu, tapi lebih baik kita pikir2 lagi, sudah yakinkah kita ke Bromo sekarang?”
Terminal Klaten sudah terlewati beberapa ratus meter, dan tiket bus sudah terbayar 70rb. Tiba-tiba “ya sudah kita berhenti disini aja, kita ke Merbabu!”. “Damn! Aku suka, ini baru keren, kita emang petualang sejati!” teriakku. Akhirnya kami minta bus berhenti saat itu juga. Setelah bus berlalu, kami tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, menertawakan ketololan kami sendiri. Angin semilir di Klaten menerpa wajahku, sejuk.
Bertanya sejenak kepada seorang Bapak dan istrinya angkutan menuju terminal, kami kemudian bergegas meluncur ke terminal Klaten. Ongkosnya 5rb untuk dua orang.
Sesampainya di terminal Klaten kami diarahkan oleh seorang ibu-ibu penjaja makanan untuk naik sebuah bus kecil yang menuju ke Boyolali. Tak perlu menunggu lama, akhirnya bus yang ditunggu datang juga. Beruntunglah kami bisa berbahasa jawa, basa-basi sedikit, kernet pun kami korek keterangannya tentang jalur menuju Merbabu. Sang kernet ternyata lebih bocor dari yang ku kira, dia ngajak ngobrol terus, bisa-bisa nggak dapet penumpang nanti pikirku.
Mas kernet menurunkan kami di sebuah perempatan sebelum terminal Boyolali, ongkos yang harus kami bayar 12rb untuk dua orang. Menurutnya disitulah banyak bus-bus kearah Selo (kota kecil di antara Merapi dan Merbabu, tempat awal pendakian).
Setelah turun, perut terasa lapar. Sebuah bus sedang ngetem menunggu penumpang. Seorang laki-laki setengah baya menawari angkutan menuju pasar Cepogo, tempat transit sebelum Selo, ongkosnya 6rb. Katanya sekarang tidak ada bus yang langsung ke Selo. Berhubung kami sudah menahan lapar, dan dia mengiming-imingi warung makan di Pasar Cepogo berderet-deret banyaknya, kami terima saja ajakannya.
Jalanan terus menanjak. Aku pribadi benar-benar menikmati perjalanan ini. Menikmati begitu beragamnya orang-orang di dalam bus, bau, dan kotornya adalah warna warni. Tidak ada yang lebih indah dari melihat senyum-senyum ramah mereka. Meski berdesakan dengan anak sekolah, bu guru, orang tua, ibu-ibu tua pedagang, bapak dan anaknya, aku segera akrab dengan suasana ini. Yang ada hanya tawa dan senyum ceria semua orang. Pernahkah kita temui suasana ini di Busway Jakarta? Impiku, semoga waktu tak tertinggal jauh untukku menikmati suasana ini lebih lama lagi.
Pasar Cepogo, kami segera menuju sebuah warung makan. Namanya Warung Makan Ngangeni. Di warung ini kami segera memesan makanan dan numpang mencharge HP dan Batere Camera. Sambil menunggu makan siap, kami mencari peralatan yang kurang, terutama senter.
Ini pertama kalinya aku naik bus, di atap. Ada ngeri sedikit, apalagi jalan yang bakal kami lalui bkan jalan raya datar, tapi bergunung-gunung dan berkelok-kelok. Hahaha, bukankah ini yang kami cari. Dan terbukti ternyata mengasikkan. Apalagi melihat tiga orang anak sekolah yang juga naik di atap begitu berani turun dari tangga meski bus masih melaju. Aku langsung membayangkan, dulu waktu aku kecil aku juga tak takut apapun. Mengapa orang dewasa lebih takut dan cenderung mudah khawatir ya?
Setelah menikmati perjalanan yang mendebarkan dan pemandangan yang indah di kanan kiri jurang, kemudian sampailah kami di kawasan wisata Selo Pass. Kami berhenti di sebuah warung, milik Bu Menik yang ramah dan putrinya yang lucu setelah membayar ongkos 6rb. Di warung Bu Menik kami lengkapi logistik kami yang kurang. Bu Menik bercerita kalau banyak pendaki yang mampir ke warungnya, bahkan tengah malam ketika warungnya telah tutup kerap ia ditelpon oleh pendaki yang butuh logistik.
Setelah ngobrol beberapa menit, kami bermaksud melanjutkan perjalanan menuju Base Camp dengan berjalan kaki. Namun kami beristirahat sejenak di sebuah Masjid di samping Pos Polisi Selo tepat di seberang warung Bu Menik. Setelah Solat dan repacking. Kami langsung menuju Base Camp.
Dan sampailah kami di Base Camp Pak Narto. Rumah terakhir di ujung Desa. Tempat para pendaki beristirahat dan menyiapkan diri sebelum benar-benar memulai pendakian. Rupanya pemilik rumah tidak di tempat. Rekanku sudah mulai lapar lagi, mungkin karena udara dingin membuat kami mudah lapar. Akhirnya kami mencari warung lain, rumah pak Patman yang juga menjadi base camp rupanya menjual makanan, nasi dan telor ceplok plus kerupuk serta teh panas, cukup enak. Sambil ngobrol-ngobrol dengan Pak Patman tentang informasi mengenai pendakian Merbabu kami mulai kedinginan, matahari rupanya hampir tergelincir di barat.
Pantangan yang harus dipatuhi pada waktu mendaki :
∙ Jangan Mengeluh
∙ Hindari kata-kata kotor
∙ Hindari perbuatan mesum
∙ Jangan melamun
∙ Jangan buang air besar atau kecil di daerah yang dikeramatkan
∙ Jangan memakai pakaian warna merah dan hijau
MARS tidak akan pernah terlihat sebesar bulan dan tidak akan ada dua buah bulan tanggal 27 Agustus.
Mars pada tanggal 27 Agustus yang disebut akan terlihat seperti purnama pada jam 00.30 itu baru terbit setelah lewat tengah malam. Jadi pada jam yang disebutkan di dalam isu itu Mars maish berada di horison dan belum bisa diamati. Sepanjang bulan Agustus Mars akan terlihat setelah tengah malam. Nah, Fenomena tanggal 27 Agustus dalam hoax tersebut mengacu pada kejadian oposisi Mars yg terjadi 4 tahun lalu (2003).
Tahun 2003, tepatnya tanggal 27 Agustus, Mars berada pada jarak terdekatnya yakni 55.758.006 km, dan oposisi terjadi tgl 28 Agustus. Saat itu Mars memang berada pada posisi terdekatnya dengan Bumi dan diameter sudut Mars saat itu hanya 25 detik busur. Bandingkan dengan Bulan yang diameter sudutnya 31 menit busur ( 1 detik busur = 60 detik busur). Jarak Bumi - Bulan 384 403 km. Pada kondisi jarak terdekatnya saja, Mars berada 144 kali lebih jauh dari Bulan dan tidak akan pernah terlihat sebesar Bulan, apalagi jika ia makin menjauh dari Bumi.
Pada tahun 2005, Mars kembali mendekat dengan bumi pada jarak 69 juta km pada tanggal 30 Oktober dengan diameter sudut sebesar 20 detik busur dan mengalami oposisi tanggal 7 November 2005.
Nah di tahun 2007, oposisi Mars akan kembali terjadi tanggal 18 Desember pada jarak sekitar 88,42 juta km dengan diameter 16 detik busur. Jarak Mars saat oposisi tahun 2007 masih lebih jauh dibanding tahun 2003 dan diameter sudutnya juga lebih kecil. Dengan demikian Mars jika dilihat dengan mata telanjang maupun teleskop tidak akan pernah terlihat sebagai obyek yang besar seperti Bulan melainkan hanyalah noktah merah indah yang akan menghiasi langit Agustus setelah lewat tengah malam.
Moment menjelang oposisi juga dipakai NASA untuk meluncurkan the Pheonix Mars Lander di bulan Agustus ini, agar jarak yang ditempuh sang penjejak ke Mars akan lebih pendek.
sumber: Langit Selatan
Tapi kalau pun Mars bisa kita lihat dengan mata telanjang dan tidak terjadi apa2 dengan dunia ini...Alangkah indahnya ya? Seseorang di Jogja mungkin akan menyaksikannya dari sela-sela hutan pinus...:)